Menyemai Gagasan, Merawat Peradaban, dan Menjaga Bumi
Pekerjaan sehari-hari di kantor bukanlah sekadar sarana menjemput rezeki duniawi, melainkan bagian tak terpisahkan dari ibadah dan manifestasi fungsi kekhalifahan manusia di muka bumi (khalifatullah fil ardh). Allah SWT berfirman:
| “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
(QS. Al-Qashash [28]: 77) |
Amanah menuntut integritas moral yang tinggi. Dokumen perencanaan, arsip keputusan universitas, rekaman gagasan dosen dan mahasiswa, serta data keberlanjutan lingkungan adalah rahasia dan titipan institusi yang wajib dijaga dengan penuh kejujuran. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa hilangnya sifat amanah merupakan tanda-tanda kerusakan sebuah masyarakat. Allah SWT berfirman:
| “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu.”
(QS. An-Nisa [4]: 58) |
Itqan bermakna mengerjakan sesuatu secara tuntas, rapi, cermat, dan mencapai standar kualitas terbaik. Kerapian penomoran surat, ketepatan agenda pertemuan, verifikasi berkas program, hingga keakuratan laporan realisasi fisik dan anggaran adalah bentuk itqan administratif. Rasulullah SAW bersabda:
| “Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang apabila melakukan suatu pekerjaan, dia melakukannya dengan itqan (sungguh-sungguh, rapi, dan sempurna).”
(HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi) |
Allah SWT secara eksplisit memerintahkan hamba-Nya untuk menyusun proyeksi masa depan dalam firman-Nya:
| “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (masa depan); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Hasyr [59]: 18) |
Al-Qur’an berulang kali menantang manusia untuk mendayagunakan daya nalarnya melalui ungkapan ‘afala ta’qiluun’ (apakah kamu tidak berakal?), ‘afala tatafakkaruun’ (apakah kamu tidak berpikir?), dan ‘afala yatadabbaruun’ (apakah kamu tidak merenungkan?). Ciri insan pembelajar sejati (Ulul Albab) adalah mereka yang memadukan zikir kepada Allah dengan tafakkur ilmiah:
| “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka’.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 191) |
Allah SWT menetapkan manusia sebagai khalifah di bumi bukan untuk mengeksploitasi alam sesuka hati, melainkan untuk memakmurkan dan menjaga keseimbangannya (‘imaratul ardh). Al-Qur’an secara keras mengecam tindakan merusak ekosistem:
| “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(QS. Ar-Rum [30]: 41) |
Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berpesan dengan ungkapan yang sangat terkenal:
| “Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab oleh Allah, dan timbanglah amal perbuatan kalian sebelum ditimbang (di akhirat). Dan bersiap-siaplah untuk hari perhitungan yang besar.”
(Riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzi) |
Penulis: Rahma Nur Fitria, S.T., M.Eng.
Staf Administrasi Badan Perencanaan & Pengembangan/Rumah Gagasan/Kantor Keberlanjutan


